Showing posts with label Bayi. Show all posts
Showing posts with label Bayi. Show all posts

Sunday, April 17, 2016

Sudocream - Cream untuk ruam popok, gatal alergi pada bayi

Cream ini saya kasih bintang 5. Sempurna. 

Sebagai ibu baru, ketika anaknya ruam popok pasti dong khawatir banget. Saya sudah coba berbagai cream dari yang mahal sebamed hingga switsal popok, tapi ruam popok ketika amira bayi tidak juga sembuh. Ruam popok amira pada selangkangan pahanya. Jadi hingga amira umur hampir 6 bulan selalu ruam merah selangkangan pahanya. 

Waktu itu saya direkomendasikan oleh teman untuk coba sudocream katanya ampuh, hanya ada di Mothercare Indonesia. Alhamdulillah setelah dipakaikan ke amira ruam popok langsung kering setelah 2-3 hari pemakaian. 

sumber : google


Sudocream ini juga dipakai untuk lengan amira yang sering gatal karena alergi kalau keringetan. Selain itu orang dewasa juga bisa pakai kalau lecet atau gatal karena karet atau pas lipatan. Saya, suami dan kakak saya pun pakai cream ini. 

Harga cream ini Rp. 119.000 dengan kemasan 125g. Value for money. Walaupun menurut saya kemasan ini terlalu besar. Saya selalu kasih rekomendasi ke teman saya dan biasanya saya suka kasih sedikit di pot kecil, kalau cocok jadi bisa beli sendiri ke mothercare. Karena rasanya sayang kalau sudah beli ternyata tidak cocok. Tapi dari semua teman yang saya kasih, mereka semua cocok. 

Jadi kalau ada gatal-gatal atau ruam2, sudocream lah penyelamatnya.  :)

Friday, March 25, 2016

Ketika memilih menjadi "Stay at home" Mom

Kalau kata orang menikah itu akan merubah kehidupan, menurut saya hamil dan memiliki anak lah yang sangat merubah kehidupan. Waktu masih berdua saja dengan suami rasa masih sama hanya penyesuaian sedikit saja karena kami termasuk sama-sama independent.

Kehidupan saat kehamilan mulai berubah apalagi saya termasuk yang mabok berat ketika hamil. Kehadirnya Amira lah yang merubah semuanya. Kehidupan saya sepertinya sudah untuk Amira. Saya memutuskan untuk berhenti berkarir pada akhir November 2015. Beberapa orang menyayangkan keputusan saya, seperti WA mantan bos saya ketika mengetahui pilihan saya bilang “Ga sayang yan? Kan kamu pintar?” tapi Alhamdulillah keluarga inti saya mendukung keputusan ini.

Memang menjelang resign ada ketakutan tidak punya uang sendiri seperti saat bekerja yang punya uang berlebih untuk ini itu. Tapi saya yakin rejeki itu akan datang dari arah yang tak terduga. Saya  hanya memantapkan hati untuk Lillahi Ta’ala mengurus anak dan keluarga. Idealnya sih punya usaha tapi saya belum kepikiran mau usaha apa. 

Sistem pendukung alias asisten rumah tangga memang berperan penting. Tidak adanya orang untuk mengasuh anak saya ketika saya kerja yang memicu saya untuk berhenti. Suster yang sudah cocok dengan Amira memutuskan menikah dan lalu hamil sehingga dia minta berhenti setelah lebaran 2015. Setelah itu lah Amira gonta ganti pengasuh. Selain itu ibu saya kecelakaan jatuh sehingga kakak saya harus menjaga ibu saya dan saya harus pindah ke rumah sendiri yang sebelumnya saya tinggal bersama ibu dan kakak-kakak saya.  Saya tidak percaya dengan pengasuh baru kalau nanti tinggal di rumah sendiri dan amira tanpa pengawasan orang terpercaya.

Situasi kantor juga menjadi pemicu, kantor ganti management. Dimana management sebelumnya sangat friendly dengan ibu pekerja, sedangkan baru tidak.  Bos baru juga demanding sekali. Jadilah saya membulatkan tekad untuk menjadi Ibu Rumah Tangga.

Alhamdulillah sudah 4 bulan saya di “rumah” saja. Rata-rata teman saya tanya bagaimana kondisi saya apakah bosan atau tidak? Alhamdulillah di rumah saja itu juga pembelajaran hidup baru untuk saya yang selama ini selalu “melala” dan tidak betah kalau dirumah saja. Saya belajar menikmati kehidupan sekarang,  belajar menghandle tantrum amira, belajar bermain dengan amira, belajar masak, belajar menata rumah.

Memang sekarang Amira jadi “lengket” banget dengan saya. Kadang saya mandi pun ditangisi didepan pintu, saya pipis dan pup pun minta pangku. Sampai sekarang pun mau disapih susah sekali karena maunya saya “weaning with love”.

Ada juga teman saya yang bertanya ada rencana untuk bekerja lagi ga? Mmm untuk sementara ini sih belum ada niatan. Kalau pun iya kerja lagi, lokasi kerja serta posisi menentukan. Area rawamangun, pulogadung atau kelapa gading masih bisa di pertimbangkan dan harus flexi hour atau partimer. Yang pasti sudah tidak bisa lagi masuk jam 8 pagi hehehe.

Menjadi ibu pekerja atau ibu “stay at home” itu memang pilihan dan tergantung situasi kehidupan masing-masing. Tidak perlu menghakimi mana yang lebih baik. Karena semua ibu ingin memberikan terbaik untuk anaknya. 

Friday, October 23, 2015

Tips traveling dengan anak bayi

Saya alhamdulillah sudah beberapa kali jalan2 jauh dengan amira. Dari yang naik mobil hingga naik pesawat. 
Beberapa tips untuk traveling dengan anak bayi/ anak dibawah 2 tahun. 

  1. Siapkan semua kebutuhan dalam koper dan juga dalam diapers bag.
  2. Pakaikan pakaian yang nyaman dan sepatu/sendal yang nyaman. 
  3. Kebetulan amira ASI jadi saya tidak repot dengan susu, tapi lately saya suka bawa susu ultra mimi.
  4. Stroler : jika naik mobil saya bawa tapi kalau naik pesawat saya tidak bawa. 
  5. Makanan : dulu waktu dibawah 1 tahun saya bawa makanan khusus, tapi setelah 1 tahun tidak lagi, karena sudah bisa ikutan makanan dewasa non pedas. Amira sudah bisa makan nasi dan lauk pauk dewasa dari umur 9/10 bulan.
  6. Selalu bawa tempat makan kosong untuk ngebekal breakfast dari hotel. 
  7. Selalu bawa tempat minum, walaupun belakangan ini amira sudah bisa minum dari botol aqua. 
  8. Kalau saya selalu bawa diapers dari rumah. Hitung jumlah pemakaiannya, kalau kurang bisa beli di tempat liburan. 
  9. Jumlah pakaian dihitung berdasarkan kebutuhan lama menginap/traveling serta di spare 2-3 pasang lagi. Karena adakalanya anak mabuk perjalanan atau keringetan sekali. 
  10. Bawa spare lebih baju untuk mama/papa nya, kadang amira mabuk perjalanan sehingga muntah dibaju saya. 

Selamat jalan-jalan moms

Wednesday, March 11, 2015

Review Pompa ASI - Breastpump

Saya hanya pakai 2 jenis pompa dari satu merek yaitu Medela Harmoni dan Medela Mini Elektrik (minel). Alhamdulillah kedua pompa ini hadiah dari rekan kerja saya dan suami. 

Medela Harmoni – over all nilai 8

Performa : Ok banget bisa mengosongkan payudara to the max, walau kadang masih harus saya marmet lagi sih.
Spare part : simple, hanya botol, katup, tutup, corong dan tungkai.
Membersikan dan pecucian : mudah kecuali bagian katup harus hati-hati agar karet tidak sobek.
Kekurangan : awalnya pegel tapi lama kelamaan terbiasa juga sih.
Kelebihan : Bisa dipakai dimana saja, tidak tergantung dengan listrik.


Medela Mini Elektrik – over all nilai 6

Performa : Kurang ok, kurang menyedot. Dari pertama dapat seperti itu, sudah di service lebih baik tapi tetap saja harus dilanjutkan dengan medela harmoni. Misal pakai pakai minel cuma dapat 50 ml, tapi kalau dilanjut dengan harmoni bisa hingga 150 ml. Jauh sekali kan performanya.
Spare part : ada kabel ke listrik dan motornya.
Membersihkan dan pencucian : sama seperti harmoni saja.
Kekurangan : kurang menyedot dan berisik banget seperti mesin potong rumput, tidak bisa dipakai dimana saja.
Kelebihan : tidak pegal :)

Saya pernah mencoba Pigeon manual dan Tommy Tipe manual tapi menurut saya kurang rekomendasi, entah saya yang tidak bisa pakainya atau bagaimana tapi yang pasti tidak bisa menyedot.

Surat ke AIMI ASI - 28 Agustus 2014, RS Brimob Kelapa Dua telah melanggar Hak Menyusui bagi Ibu yang melahirkan

Saya pernah mengirimkan surat ke AIMI tanggal 28 Agustus 2014, mengenai penyimpangan RS Brimob dalam menangani ibu melahirkan. Tapi sampai sekarang tidak ada tanggapan ataupun balasan tindak lanjut dari AIMI. Jadi kepikiran untuk tulis di blog aja. Agar menjadi pembelajaran Ibu-Ibu untuk lebih teliti memilih Obgyn dan RS untuk melahirkan.



Kepada AIMI ASI di Jakarta,
Bersama email ini saya ingin melaporkan RS Brimob Kelapa Dua telah melanggar Hak Menyusui bagi Ibu yang melahirkan.  Berikut kronologis nya :

  1. Rekan kerja saya, Ibu CF selalu kontrol kandungan oleh bidan di Klinik Setia Rumanda Cibubur. Pada Hari Senin subuh 25 Agustus 2014 sekitar 1 dini hari pecah ketuban dan langsung ke Klinik tersebut untuk observasi.
  2. Pagi jam 8 tidak ada kemajuan lalu di induksi dengan harapan bisa lahir normal. Namun dengan kondisi tidak ada kemajuan Ibu C meminta untuk dilakukan secio. Saat itu hanya ada Dr. Syapril SPOG yang praktek di Klinik tsb dan bisa di rujuk ke RS Brimob Kelapa dua.
  3. Sehingga pada Hari senin 25 Agustus 2014 sekitar jam 15.00 dilakukan secio di RS Brimob kelapa Dua.
  4.  Pada hari selasa pagi 26 Agustus 2014, ibu C memberi info kepada kami rekan kerja bahwa beliau belum bisa bertemu dan menyusui bayinya karena peraturan dari RS tersebut hanya boleh melihat bayi dan menyusui di Ruang Bayi, yang mana ibu nya operasi sehingga tidak bisa bangun dari tempat tidur selama 24 Jam.  Alasan RS karena alasan keamanan dan hygienitas, takut bayi tetular penyakit dari RS tsb.Dan pihak RS sudah meminta keluarga untuk membeli Susu Formula untuk di berikan ke bayi tersebut. Pihak keluarga memberikan uang ke perawat untuk membelikan nya. Pilihan susu adalah SGM atau Nan HA.  Jadi dari hari pertama bayi sudah di beri susu formula dan ibu tidak di beri kesempatan menyusui. 
  5.   Saya dan 2 rekan kantor langsung menuju ke RS untuk membantu teman saya tersebut mendapat hak menyusui nya. Hari selasa 26 Agustus 2014 Sekitar jam 15.20 saya sampai dan membantu ibu C bangun, belajar jalan dan membersihkan diri terlebih dahulu. Infus dan kateter pun dilepas ketika kami disana (karena memang sudah 24 jam setelah operasi).  Saya sempat bertanya kepada bidan yang yang bertugas (mahasiswa kebidanan RS Brimob) kenapa bayi tidak bisa dibawa ke tempat ibu, jawabnya karena takut tertular virus, karena ruang sebelah, ruang perawatan umum.
  6. Sekitar Jam 16.00 saya mengantarkan Ibu C ke ruang bayi yang ternyata hanya berjarak kurang lebih 5 meter dari ruang perawatan nifas.  Saya minta ijin ikut masuk untuk mengajarkan Ibu C menyusui dengan mengaku sebagai konselor ASI baru di ijinkan untuk masuk. Kami bilang mau menyusui namun sepertinya mereka kaget dan bertanya “Memang ASI nya sudah keluar”, Lalu saya jawab “Sudah” dan menunjukan memang kolostrum ibu C sudah ada. Saya melihat dibibir bayi seperti ada susu, lalu saya tanya baru di beri susu formula ya? dan perawatnya bilang iya tadi abis mandi, saya tanya lagi berapa banyak, jawabnya 20-30ml. Saya tanya susunya apa? Dia jawab SGM.
  7.  Lalu saya melanjutkan mengajarkan ibu C untuk menyusui. Sambil saya ngobrol dengan perawat untuk minta dipanggil kalau bayi nangis. Lalu tanya bagaimana caranya kalau mau asi exlusive disini. Mereka bilang terakhir menyusui hanya sampai jam 9 malam, karena ruangan mereka kunci dan baru bisa masuk jam 8 pagi. Jadi ibu tidak boleh masuk antara jam 9 malam hingga 8 pagi. Malam itu mereka akan kasih Sufor. Saya tanya kalau kita tidak mau di kasih sufor dan mau menyusui bagaimana. Mereka jawab tidak bisa menyusui, kalaupun begitu keluarga pasien tanda tangan pernyataan mau asi exlusive sehigga selama malam tsb tidak di beri susu formula.
  8. Saya juga sempat tanya cara pemberian susu bagaimana, mereka bilang setiap 2 jam sekali, nangin tidak nangis setiap bayi dibangunin. Dan disana ada  belasan bayi. Sangat miris sekali dipisahkan dari ibu nya.
  9. Saya juga ikut mendengar ketika serah terima bayi yang akan pulang, mereka bilang “ini susunya disini, kalau ASInya sudah keluar mau campur ini juga boleh”.  Bukannya mengajari bagaimana cara menyusui dengan benar. Ternyata diluar ada bapak-bapak yang bertanya ke rekan saya,” memangnya boleh menyusui ya?” karena mereka kira tidak boleh menyusui dan harus pakai formula. Kasihan orang-orang tersebut dengan minim informasi tidak bisa mendapatkan hak nya
  10. Sekitar jam 17.00an saya langsung minta ibu C menelpon bidan nya untuk minta pindah ke klinik malam itu juga agar bisa tidur dengan bayinya, namun sayang mereka baru bisa pindah keluar dari RS tersebut hari Rabu 27 Agustus 2014 pagi jam 6.30.
  11. Saya juga melihat dalam ruang bayi terdapat tumpukan kotak susu SGM dan NAN HA. (foto terlampir).
Oleh karena itu mohon bantuan dari AIMI untuk bisa menindaklanjuti ke RS Brimob Kelapa Dua, agar merubah SOP yang ada sehingga mendatangnya semua Ibu dan Bayi yang melahirkan disana mendapat hak nya untuk bisa menyusui dan tidak diberi susu formula.


Besar harapan saya AIMI bisa menindaklanjuti ini. Terima kasih atas perhatiannya.
Yani Syahril
Ibu dari Amira (10bulan)


Foto :
Kaleng susu di dinding dan botol dot di meja perawat

Deretan kotak susu SGM dan Nan HA

Tuesday, August 12, 2014

Amira Bertamasya

Amira sudah kemana aja ya...

Ke Ancol (27 Desember 2013) - Pertama kali dalam rangka merayakan ulang tahun papa kita ke ancol dan kedua kalinya pas nemenin mama tugas dan lari acara lari Nova.

27 Des 2013


27 April 2014 - Abis lari 5 K



Ke Kebun Binatang Ragunan (31 Juli 2014) - Terinspirasi dari film We bought a zoo, kita jadi ingin sekali ajak amira ke kebun binatang, dan terealisasi ketika liburan lebaran.
Selfie dengan Gajah


Ke Bandung (1-3 Agustus 2014) - Ini liburan lebaran juga...
Di The Valley Hotel

Ke Taman Mini Keong Mas dan Naik Kereta Gantung. - Ini dalam rangka nemenin mama tugas sambil bertamasya.
8 Mei 2014 - temenin mama ke Keong Mas
 
9 Agustus 2014


Friday, November 15, 2013

Rencana Vs Realita dalam Proses Kelahiran Amira

Sejak awal kehamilan, saya sangat ingin melahirkan secara normal dan kalau bisa secara water birth. Apalagi sebelum kehamilan saya pernah melihat video mengenai water birth. Namun kendala minim tenaga medis dan fasilitas pendukung untuk melahirkan secara water birth, jadi saya batalkan niatan tersebut. Saya juga mempelajari Gentle Birth dan Hypnobirth. Walaupun kebanyakan dari praktisi Gentle Birth adalah pro water birth. Namun Gentle Birth itu bukanlah Water Birth. 

Sepemaham saya mengenai Gentle Birth adalah kelahiran dengan kesadaran penuh dan dinikmati dengan sepenuh jiwa sehingga tidak akan menimbulkan rasa sakit dan trauma kepada ibu dan janin/bayi. Sehingga ibu akan terhindar dari baby blues dan bayi akan tumbuh lebih baik dan tidak rewel. Sedangkan Hypnobirthing adalah salah satu cara untuk mencapai Gentle Birth. Hypnobirthing itu affirmasi kepada diri sendiri/pendayaan diri untuk meyakinkan diri bahwa diri kita mampu akan proses alami tersebut. 

Untuk mencapai tujuan lahir secara normal dan gentle birth, maka saya pilih dokter kandungan saya sekarang dr Achmad Mediana SpOG. Saya juga membuat birth plan pada trisemester ketiga dan mulai diskusi dengan dokter mau-maunya saya pada waktu kelahiran nanti. Dokter memberi nasehat-nasehat agar tujuan itu berhasil seperti senam hamil, rajin olah raga dan rajin jongkok. Semua nasehat itu saya jalanin, termasuk tambahan yoga 1x. Dokter pun meminta saya untuk cuti pada W38, itu pun sesuai dengan rencana saya untuk cuti di W38. 

Menunggu hari kelahiran itu rasanya deg-degan banget. W38 terlewati tanpa rasa mules/gelombang cinta. Saya semakin rajin affirmasi diri, bicara dengan janin, senam hamil dan jongkok di apartemen. Segala macem jenis induksi alami yang ada tips di blog dan web pun saya jalani, dari makan nanas, mangga, durian lalu relaxasi, pijit, dan "papanya jenguk anaknya" .W39 dan HPL W40 (21 Oktober) terlewati lagi tanpa rasa kontraksi. Semakin deg-degan. Ditambah suami saya mau ikut Jakarta Marathon tanggal 27 Oktober. Takut pas dia marathon, saya mules melahirkan. Pada hari kamis, W40d3 saya kontrol ke dokter, dan beliau pun membuat scenario apabila saya tidak mules juga. Maximal di tunggu pada W42, atau induksi sebelum W42. Beliau tawarkan induksi hari selasa W41d1. 

Hari jumat saya kontak Mas Reza Gunawan, praktisi holistik untuk coba induksi alami akupuntur. Saya akupuntur hari senin di W41 siang. (ternyata mahal juga ya :p) tapi demi lahir normal saya ikhlas. Hari senin itu juga malamnya saya kontrol ke dokter lagi, dan beliau membuat 3 scenario yang harus saya putuskan. Beliau tidak mau dia yang putuskan karena bisa menjadi penyesalan kalau dokter yang putuskan katanya. Scenario 1 : Tunggu hingga senin depan W42 kalau tidak lahir langsung cesar. Scenario 2 : Induksi di minggu ini. Max 2 infus. Jikalau tidak berhasil harus cesar. Scenario 3 : tanpa induksi planing cesar. Pilihan yang sangat sulit bagi saya, karena saya masih sangat berharap untuk bisa lahiran normal. Saya juga bilang abis induksi akupuntur. Kata mas Reza akupuntur bisa bekerja antar 1-4 hari, jika belum lahir hari rabu saya di minta akupuntur lagi. Mas Reza menyarankan saya untuk tidak induksi medis dan tetap tunggu kelahiran normal. Namun saya secara sadar juga tidak mau ambil resiko, karena dokter sudah bilang bayi saya besar.  Jadi saya ambil keputusan di ruang dokter itu untuk induksi medis hari kamis 31 Oktober 2013 di RS Asri. Dengan harapan saya bisa akupuntur sekali lagi dan berharap ada kontraksi sebelum kamis. Ikhtiar segala cara, sehingga saya tidak menyesal dikemudian hari.  Ketika hari rabu akupuntur saya tidak bilang ke Mas Reza kalau saya besok kamis direncanakan untuk induksi medis, karena pasti dia melarang dan bisa membuat saya ragu lagi. Setiap hari saya berdoa untuk ada kontraksi.

Hari Kamis 31 Oktober pun datang, saya belum kontraksi. Jadi saya bersiap-siap ke RS Asri, di antar oleh suami saya yang sudah cuti. Kita langsung ke ruang melahirkan. Di ruang observasi saya di cek CTG untuk lapor ke dokter Achmad Mediana nya. Dan jam 2 siang saya mulai diinduksi via infus. Mulai dari 8 tetes permenit, yang dinaikan dosisnya setiap jamnya, hingga di jam 6 malam mulai di 20 tetes permenit saya mulai merasa perut kencang tanpa rasa sakit. Kalau di CTG katanya itu kontraksi. Hingga infus habis masih tetap seperti itu dengan bukaan 1. Infus dicopot dan saya istirahat, karena akan lanjut dengan infus selanjutnya esok harinya. Jumat pagi saya dicek CTG lagi dan mulai infus induksi ke 2 jam 7 pagi. Dokter Achmad yang visit di pagi hari tersebut. Beliau bilang, "Bu, yakin ya lanjut ke induksi ke2. Ga ragu lagi. kalau tidak ada kemajuan, nanti operasi ya, insya Allah jam 8 malam setelah saya praktek saja." Saya mulai menyiapkan mental dan kesadaran diri untuk operasi dan tetap berdoa agar induksi ke2 berhasil. Jam 2 infus sudah habis dan ternyata saya tidak ada kemajuan juga. Jadi setelah di info ke dokter Achmad, beliau memajukan jadwal jadi jam 4 sore. Jadilah saya siap-siap dan tidak boleh makan lagi dan terpenting saya sudah ikhlas dengan kesadaran diri harus melahirkan dengan Cesar.

Jam 15.45 saya siap masuk ke ruang operasi. Jam 16.00 mulai operasi dengan bius spinal, sehingga saya masih sadar ketika bayi Amira lahir jam 16.18 dan tak lama kemudian saya IMD selama kurang lebih 45 menit. Saya keluar ruang operasi sekitar jam 17.30 dan masuk di ruang pemulihan hingga jam 19.00. Disini diketahui bahwa bayi dalam posisi mengadah, jadi dia tidak bisa klik masuk panggulnya selain itu beratnya pun 4230g yang membuat susah lahirnya. Alhamdulillah sejak malam pertama Amira sudah tidur satu tempat tidur dengan saya, sehingga saya bisa langsung memberikan ASI saya untuk Amira dan Amira pun tidak rewel tidur dengan saya. 

Jadi apakah saya melahirkan dengan Gentle Birth? Wallahuallam, yang pasti secara sadar pilihan-pilihan itu saya buat dengan segala ikhtiar sudah dilakukan. Alhamdulillah Amira pun termasuk bayi anteng tidak rewel serta pemulihan saya juga termasuk cepat & bekas operasi pun cepat sembuh.

Thursday, November 14, 2013

Baby Girl "Amira Hafidzah Medina"

Happy Birthday my litte girl "Amira Hafidzah Medina"

Tempat : RS Asri Duren Tiga, Jakarta
Tanggal Lahir : 1 November 2013
Jam : 16.18 WIB
Berat : 4230 g
Panjang : 52 cm
Jenis Persalinan : SC
Dokter Kandungan : dr. Achmad Mediana  SpOG
Dokter Anak : dr. I Made Indra SpA
Bidan : Novi

Semoga menjadi anak yang solehah, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi masyarakat dan sesuai namanya menjadi pemimpin wanita yang selalu menjaga Al quran dalam hidupnya. Aamiin.